Sunday, May 31, 2015

MBS5. FIRASAT



Aku sering merasa tidak enak. Seperti ada bayangan kabur, bukan bayangan orang melainkan bayangan kabut yang menyelimuti padepokan. Sehari dua aku mengabaikannya, tetapi akhirnya Mr. Steve bisa melihat perilakuku yang menjadi lebih pendiam.

"Ada apa Pangon?" Mr. Steve bertanya suatu hari, "Kamu tampak pendiam dan suka menyendiri. Tatapanmu juga sering menerawang atau malahan blank..."

Semula aku tidak menjawab, tetapi akhirnya kuceritakan bayangan kabut yang selama ini kulihat menyelimuti Padepokan.

Mr. Steve tersenyum mendengar uraianku, "Kamu punya intuisi yang tajam... itu bagus buatmu."

"Maksud Mister...?"

"Beberapa guru juga mendapat isyarat serupa. Tampaknya ada sesuatu yang akan terjadi pada padepokan kita."

Aku mencoba mengamati Mr. Steve, tetapi yang kudapati hanya wajah tenang yang tidak berubah dari kebiasaannya. Mr. Steve memang tidak pernah panik oleh berita sebesar apa pun.

"Apakah kita perlu menyelamatkan diri?" aku bertanya pelan.

Mr. Steve menganggukkan kepala, "Tepatnya mempersiapkan diri. Kalau tentang keselamatan, kita tidak tahu apakah di luar padepokan lebih aman daripada di dalam..."

Siangnya aku mendengar desas-desus tentang perselisihan salah satu guru dengan ustadz di luar padepokan. Guru itu mengobati seorang warga, tetapi cara pengobatannya dianggap sesat oleh ustadz di luar padepokan.

Aku menjadi gelisah karena setelah itu bayangan kabut tampak lebih tebal dan lebih sering datang. Aku merasa sesuatu yang besar benar-benar akan terjadi....

================

Gambar diambil dari http://gambarwallpaper.fondecranhd.net/berkabut-6/
MBS: Menulis Blog Serial

Saturday, May 30, 2015

MBS4. SIBUK?


Aku tidak sibuk kemarin. Memang ada beberapa kegiatan yang harus kulakukan, tetapi aku yakin semua orang juga harus melakukan kegiatan-kegiatan serupa: mencari nafkah, mendatangi undangan, menemui tamu dan tidak ketinggalan melayani keluarga. Artinya aku seharusnya tidak beralasan sibuk.

Tetapi aku tidak membuat MBS3 kemarin. Dan sebagai hukumannya, aku tidak menganggap diriku berhak menulis judul MBS3.

Ok, entah penting entah tidak. Yang jelas bagiku jelas: tidak boleh lagi menunda menulis. Aku ingat betul kemarin pagi, sehabis Subuh, aku bisa menulis tetapi sengaja menundanya. Lalu kelupaan sampai sore dan malam datang... sama sekali tidak teringat untuk menulis.

===================

Salah satu perbedaan padepokan dengan kota riuh di luar adalah: tenteram.

Dalam padepokan,suasananya terasa tenteram. Semua orang sibuk, tetapi kesibukan setiap orang bisa dijalankan tanpa membuat kami menjadi 'tidak manusiawi'. Berbeda dengan di luar, alasan sibuk membuatku (setelah tidak di padepokan) tidak sempat mengobrol dengan tetangga, mengebut di jalan dan selalu merasa terburu-buru entah apa yang dituju.

Konon aku pernah merasa sangat membutuhkan uang beberapa juta. Kupikir dengan uang itu aku akan hidup nyaman, tenang dan tenteram. Nyaman karena sandang pangan papan tercukupi, tenang karena bisa mencari nafkah tanpa diuber-uber keharusan, dan tenteram karena hatiku pasti bisa fokus. Ternyata ketika uang yang kubutuhkan berada di tangan, dan aku punya cukup waktu luang, kenyamanan dan ketenangan itu gagal kudapat. Apalagi ketenteraman.

Aku jadi sering merindukan padepokanku. Satu hal yang jelas-jelas tidak mungkin terwujud.

===================

Gambar dari https://kanal3.wordpress.com/category/artikel-ku/
MBS: Menulis Blog Serial

Thursday, May 28, 2015

MBS2. INVISIBLE


Salah satu ilmu tersulit di padepokan adalah ilmu menghilang, membuat diri kita tidak terlihat. Pada masa lalu ilmu ini bernama Aji Panglimunan, tetapi oleh guru-guru ilmu ini sedikit dimodifikasi sehingga namanya menjadi Invisible.

Perlu meditasi dan laku dalam waktu lama untuk bisa menguasai ilmu ini.

Tetapi hari ini kami, lima murid padepokan yang dianggap sebagai murid terbaik, dilepas ke sebuah pasar dan diharuskan menjadi the invisible.

Seperti biasa kami tidak menolak perintah. Meski sulit dan membuat kami bertanya-tanya, tetap saja yang kami lakukan adalah mengangguk dan berangkat ke tempat tugas yang diperintahkan.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan keempat temanku karena kami diperintahkan menunggu di tempat terpisah. Tetapi aku sendiri berusaha maksimal untuk menjadi tidak terlihat dengan caraku sendiri.

Pertama yang kulakukan adalah dengan memakai baju gembel, kemudian memakai wig gembel (semua perlengkapan menggembel ada di padepokan, sebagai alat untuk menguji murid untuk beberapa ilmu tertentu).

Dengan penampilan seperti itu, aku kemudian duduk di pojok pasar.

Setiap ujian selalu diikuti tim penilai yang biasanya tidak kami ketahui keberadaannya, karena itu aku berusaha duduk tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Menurutku, dengan cara ini aku sudah cukup memenuhi kriteria tidak terlihat.

Singkat cerita ternyata dari lima murid memang tidak ada yang berhasil menguasai ilmu Invisible (karena memang belum diajarkan). Tetapi caraku dianggap paling efektif dan mendekati makna invisible, yaitu tidak menarik perhatian orang untuk melihat.

"Tidak terlihat bisa karena kemampuan kita untuk menghilang, bisa juga dengan cara seperti Pangon yang membuat orang lain malas melihatnya," ujar Mr. Steve yang menjadi wali ujian ini.

Aku sendiri mendapat pengalaman selama berdiam diri di pojok pasar sejak jam enam pagi sampai jam enam sore itu. Ternyata menjadi tidak terlihat sangat menyenangkan. Aku bisa memperhatikan perilaku orang-orang secara bebas.

Tanpa memberitahu orang-orang, aku sebenarnya menamai apa yang kulakukan hari itu sebagai ilmu the watcher. Kalau aku bisa menjadi guru silat suatu hari nanti, mungkin akan kuajarkan ilmu ini sebagai salah satu pelengkap dari pelajaran budi pekerti, yaitu untuk mengamati perilaku manusia di sekitar kita kemudian mengambil pelajaran darinya.

Sedangkan ilmu invisible sendiri seharusnya kupelajari mulai semester depan... saat yang seharusnya menjadi masa-masa akhirku di padepokan seandainya saja tidak terjadi peristiwa itu. Sebuah peristiwa yang mengubah jalan hidupku seratus delapan puluh derajat.

Tetapi peristiwa itu kuceritakan lain kali saja. Yang jelas ujian invisible yang melahirkan the watcher ini memberiku banyak pelajaran yang berguna untuk masa-masa hidupku berikutnya.

Memperhatikan orang lain, tanpa terlibat dalam kehidupan mereka, ternyata memberi pelajaran tersendiri.

=========
* Gambar dicopy dari https://krou.files.wordpress.com/2009/10/gembel.jpg

Wednesday, May 27, 2015

MBS1. PONDOK


Aku yakin banyak teman yang biasa tinggal di pondok. Mungkin Pondok Indah, Pondok Kopi, Pondok Pesantren atau sekedar pondok makan berupa resto atau kafe kecil di pinggir jalan. Aku juga anak pondok, tetapi sedikit berbeda dengan semua pondok di atas. Pondok yang kumaksud adalah pondok perguruan silat, atau lebih dikenal orang-orang sekitar sebagai Padepokan.

Di padepokan aku diajari berbagai hal, dari bela diri sampai pelajaran akhlak dan ilmu pengetahuan. Kalau bela diri aku yakin teman-teman tidak merasa heran, karena pendekar silat yang mengabdikan diri sebagai guru-guru di sini jelas jago-jago bela diri. Kalau pelajaran akhlak juga aku yakin teman-teman bisa mengerti bahwa padepokan silat selain mengajar ilmu bela diri juga mengajarkan budi pekerti yang luhur. Tentang yang terakhir, ilmu pengetahuan, teman-teman mungkin heran. Apa bisa para pendekar mengajar ilmu pengetahuan dan teknologi?

Yah aku bisa memaklumi keheranan tersebut kalau teman-teman memandang padepokan saya sebagai padepokan silat tradisional di terpencil di sebuah dusun di balik gunung. Faktanya, padepokan saya berdiri di tengah kota, mengambil area seluas empat lapangan sepak bola, dengan pepohonan dan bangunan yang natural, sama sekali berbeda dengan gersang dan riuhnya kota di luar dinding berlapis tanaman bambu padepokan.

Dalam padepokan itu, ada satu orang guru tertinggi yang memang orang tradisional, tua dan berpakaian layaknya pendekar di film-film. Selain beliau, para pendekarnya adalah para sarjana bahkan ada yang sudah doktor, tetapi kemudian memilih untuk hidup sebagai pendekar. Aku tidak tahu bagaimana mereka mencari nafkah, yang jelas tiap hari mereka ada di pondok dan menjadi dermawan yang sering membiayai anak-anak yatim semacam aku.

Yah... aku memang anak yatim. Bersama sekitar dua puluhan anak yatim lainnya, kamu dilatih silat, diajari budi pekerti sekaligus diberi pelajaran layaknya sekolah umum dalam padepokan ini. Sebuah tempat yang nyaman, mungkin anak-anak berkecukupan di luar pondok pun belum tentu menikmatinya. Konon kubaca, anak-anak berkecukupan di luar padepokan ini banyak yang broken home, karena meski punya rumah yang bagus dan orang tua yang kaya tetapi tidak pernah menemukan kehangatan rumah sebagaimana yang seharusnya. Kubaca, beberapa remaja berkecukupan di luar pondok ada yang stress, ketagihan obat dan ada yang sampai bunuh diri. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan anak padepokan, karena dalam padepokan ini kami diajari untuk menghargai kehidupan sebagai anugerah tertinggi.

Demi kehidupan, kami dilatih untuk rela mengorbankan apa saja. Berbeda dengan pelajaran di luar... kami dengar orang rela mengorbankan kehidupan demi uang atau materi lainnya.

Kami dilatih untuk menjunjung tinggi kehidupan, baik kehidupan kami sendiri maupun kehidupan orang lain. Ya, agak ironi sih kalau membahas tentang kehidupan orang lain. Karena kami diajar untuk rela berkorban, harta maupun jiwa, demi keselamatan orang lain dan demi memelihara kehidupan secara umum. Tetapi kami bisa mengerti bahwa dalam kehidupan, pekerti tertinggi adalah pengorbanan demi sesama. Meski terkesan mirip dengan bunuh diri, tetapi jelas berkorban demi sesama ini lebih memperlihatkan tujuan yang mulia.

Begitulah gambaran singkat pondok tempatku diasuh. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan tentang pondokku, tetapi sementara sampai di sini saja dulu. Kami tidak punya waktu yang banyak untuk menulis dan mengakses internet. Para pengajar/pendekar di padepokan ini sangat care untuk menjaga agar kami tidak sampai kecanduan internet... jangan sampai seperti anak-anak pecandu di luar padepokan sana.

Tunggu ceritaku selanjutnya ya... siapa tahu banyak yang bisa kita share. Aku tentang kehidupan padepokanku, dan kalian tentang kehidupan kalian.

Mohon maaf kalau aku terkesan menganggap kehidupan luar padepokan sebagai kehidupan yang kurang baik. Dalam contoh di atas, aku hanya mengambil contoh buruk kehidupan luar padepokan. Padahal pasti lebih banyak kebaikan daripada keburukan di semesta ini. Aku yakin selalu ada kebaikan di mana-mana, karena setahun lagi juga kami yang sudah lulus harus ke luar padepokan, turun gunung istilahnya, diganti dengan cantrik-cantrik yatim lain yang harus mengikuti pendidikan seperti kami selama ini.

=============
Notes:

MBS = Menulis Blog Serial
Gambar diambil dari https://500px.com/photo/49525668/silat-kids-by-dheny-patungka. Gambar ini hanya untuk ilustrasi, bukan dari kehidupan di padepokanku.

Teman Maya

Aku pernah punya banyak teman maya di alm. situs multiply, tetapi sekarang teman maya itu sudah entah pada kemana. Sayang sekali, padahal udah serasa seleb di alm. multiply tersebut.

Kemudian agak lama tidak fokus ke dunia maya... maksudku... aktif juga sih tapi gak fokus di salah satu sosmed. Kadang main fesbuk, kadang twitter, kadang wordpress dan sebagainya. Karena gak fokus, id juga sering gonta-ganti.

Sekarang tertarik untuk fokus lagi di dunia maya, punya teman buat asyik ngobrol dan sebagainya. Maka kupilihlah media blogspot ini untuk sarana berselancar.

Tentang diriku... aku sangat tertutup sehingga pengennya ngobral ngobrol tanpa nanya-nanya identitas. Bukan apa-apa... soalnya aku aslinya gak ganteng dan gak kaya, gak seasyik di dunia maya juga... jadi aku memang lebih pengen membangun dunia tanpa identity ini.

Yang jelas aku bukan teroris, bukan ISIS, meski bukan seleb atau anak gaul juga. Aslinya aku cuman anak yang gagal tumbuh dewasa, suka mengurung diri dan jarang berinteraksi. Insyaa Allaah bukan orang jahat lah.

Semoga melalui blogspot ini aku bisa dapet teman maya yang asyik buat berbagi.

Segitu dulu ya... mari berteman....