Wednesday, May 27, 2015
MBS1. PONDOK
Aku yakin banyak teman yang biasa tinggal di pondok. Mungkin Pondok Indah, Pondok Kopi, Pondok Pesantren atau sekedar pondok makan berupa resto atau kafe kecil di pinggir jalan. Aku juga anak pondok, tetapi sedikit berbeda dengan semua pondok di atas. Pondok yang kumaksud adalah pondok perguruan silat, atau lebih dikenal orang-orang sekitar sebagai Padepokan.
Di padepokan aku diajari berbagai hal, dari bela diri sampai pelajaran akhlak dan ilmu pengetahuan. Kalau bela diri aku yakin teman-teman tidak merasa heran, karena pendekar silat yang mengabdikan diri sebagai guru-guru di sini jelas jago-jago bela diri. Kalau pelajaran akhlak juga aku yakin teman-teman bisa mengerti bahwa padepokan silat selain mengajar ilmu bela diri juga mengajarkan budi pekerti yang luhur. Tentang yang terakhir, ilmu pengetahuan, teman-teman mungkin heran. Apa bisa para pendekar mengajar ilmu pengetahuan dan teknologi?
Yah aku bisa memaklumi keheranan tersebut kalau teman-teman memandang padepokan saya sebagai padepokan silat tradisional di terpencil di sebuah dusun di balik gunung. Faktanya, padepokan saya berdiri di tengah kota, mengambil area seluas empat lapangan sepak bola, dengan pepohonan dan bangunan yang natural, sama sekali berbeda dengan gersang dan riuhnya kota di luar dinding berlapis tanaman bambu padepokan.
Dalam padepokan itu, ada satu orang guru tertinggi yang memang orang tradisional, tua dan berpakaian layaknya pendekar di film-film. Selain beliau, para pendekarnya adalah para sarjana bahkan ada yang sudah doktor, tetapi kemudian memilih untuk hidup sebagai pendekar. Aku tidak tahu bagaimana mereka mencari nafkah, yang jelas tiap hari mereka ada di pondok dan menjadi dermawan yang sering membiayai anak-anak yatim semacam aku.
Yah... aku memang anak yatim. Bersama sekitar dua puluhan anak yatim lainnya, kamu dilatih silat, diajari budi pekerti sekaligus diberi pelajaran layaknya sekolah umum dalam padepokan ini. Sebuah tempat yang nyaman, mungkin anak-anak berkecukupan di luar pondok pun belum tentu menikmatinya. Konon kubaca, anak-anak berkecukupan di luar padepokan ini banyak yang broken home, karena meski punya rumah yang bagus dan orang tua yang kaya tetapi tidak pernah menemukan kehangatan rumah sebagaimana yang seharusnya. Kubaca, beberapa remaja berkecukupan di luar pondok ada yang stress, ketagihan obat dan ada yang sampai bunuh diri. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan anak padepokan, karena dalam padepokan ini kami diajari untuk menghargai kehidupan sebagai anugerah tertinggi.
Demi kehidupan, kami dilatih untuk rela mengorbankan apa saja. Berbeda dengan pelajaran di luar... kami dengar orang rela mengorbankan kehidupan demi uang atau materi lainnya.
Kami dilatih untuk menjunjung tinggi kehidupan, baik kehidupan kami sendiri maupun kehidupan orang lain. Ya, agak ironi sih kalau membahas tentang kehidupan orang lain. Karena kami diajar untuk rela berkorban, harta maupun jiwa, demi keselamatan orang lain dan demi memelihara kehidupan secara umum. Tetapi kami bisa mengerti bahwa dalam kehidupan, pekerti tertinggi adalah pengorbanan demi sesama. Meski terkesan mirip dengan bunuh diri, tetapi jelas berkorban demi sesama ini lebih memperlihatkan tujuan yang mulia.
Begitulah gambaran singkat pondok tempatku diasuh. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan tentang pondokku, tetapi sementara sampai di sini saja dulu. Kami tidak punya waktu yang banyak untuk menulis dan mengakses internet. Para pengajar/pendekar di padepokan ini sangat care untuk menjaga agar kami tidak sampai kecanduan internet... jangan sampai seperti anak-anak pecandu di luar padepokan sana.
Tunggu ceritaku selanjutnya ya... siapa tahu banyak yang bisa kita share. Aku tentang kehidupan padepokanku, dan kalian tentang kehidupan kalian.
Mohon maaf kalau aku terkesan menganggap kehidupan luar padepokan sebagai kehidupan yang kurang baik. Dalam contoh di atas, aku hanya mengambil contoh buruk kehidupan luar padepokan. Padahal pasti lebih banyak kebaikan daripada keburukan di semesta ini. Aku yakin selalu ada kebaikan di mana-mana, karena setahun lagi juga kami yang sudah lulus harus ke luar padepokan, turun gunung istilahnya, diganti dengan cantrik-cantrik yatim lain yang harus mengikuti pendidikan seperti kami selama ini.
=============
Notes:
MBS = Menulis Blog Serial
Gambar diambil dari https://500px.com/photo/49525668/silat-kids-by-dheny-patungka. Gambar ini hanya untuk ilustrasi, bukan dari kehidupan di padepokanku.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment