Thursday, May 28, 2015

MBS2. INVISIBLE


Salah satu ilmu tersulit di padepokan adalah ilmu menghilang, membuat diri kita tidak terlihat. Pada masa lalu ilmu ini bernama Aji Panglimunan, tetapi oleh guru-guru ilmu ini sedikit dimodifikasi sehingga namanya menjadi Invisible.

Perlu meditasi dan laku dalam waktu lama untuk bisa menguasai ilmu ini.

Tetapi hari ini kami, lima murid padepokan yang dianggap sebagai murid terbaik, dilepas ke sebuah pasar dan diharuskan menjadi the invisible.

Seperti biasa kami tidak menolak perintah. Meski sulit dan membuat kami bertanya-tanya, tetap saja yang kami lakukan adalah mengangguk dan berangkat ke tempat tugas yang diperintahkan.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan keempat temanku karena kami diperintahkan menunggu di tempat terpisah. Tetapi aku sendiri berusaha maksimal untuk menjadi tidak terlihat dengan caraku sendiri.

Pertama yang kulakukan adalah dengan memakai baju gembel, kemudian memakai wig gembel (semua perlengkapan menggembel ada di padepokan, sebagai alat untuk menguji murid untuk beberapa ilmu tertentu).

Dengan penampilan seperti itu, aku kemudian duduk di pojok pasar.

Setiap ujian selalu diikuti tim penilai yang biasanya tidak kami ketahui keberadaannya, karena itu aku berusaha duduk tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Menurutku, dengan cara ini aku sudah cukup memenuhi kriteria tidak terlihat.

Singkat cerita ternyata dari lima murid memang tidak ada yang berhasil menguasai ilmu Invisible (karena memang belum diajarkan). Tetapi caraku dianggap paling efektif dan mendekati makna invisible, yaitu tidak menarik perhatian orang untuk melihat.

"Tidak terlihat bisa karena kemampuan kita untuk menghilang, bisa juga dengan cara seperti Pangon yang membuat orang lain malas melihatnya," ujar Mr. Steve yang menjadi wali ujian ini.

Aku sendiri mendapat pengalaman selama berdiam diri di pojok pasar sejak jam enam pagi sampai jam enam sore itu. Ternyata menjadi tidak terlihat sangat menyenangkan. Aku bisa memperhatikan perilaku orang-orang secara bebas.

Tanpa memberitahu orang-orang, aku sebenarnya menamai apa yang kulakukan hari itu sebagai ilmu the watcher. Kalau aku bisa menjadi guru silat suatu hari nanti, mungkin akan kuajarkan ilmu ini sebagai salah satu pelengkap dari pelajaran budi pekerti, yaitu untuk mengamati perilaku manusia di sekitar kita kemudian mengambil pelajaran darinya.

Sedangkan ilmu invisible sendiri seharusnya kupelajari mulai semester depan... saat yang seharusnya menjadi masa-masa akhirku di padepokan seandainya saja tidak terjadi peristiwa itu. Sebuah peristiwa yang mengubah jalan hidupku seratus delapan puluh derajat.

Tetapi peristiwa itu kuceritakan lain kali saja. Yang jelas ujian invisible yang melahirkan the watcher ini memberiku banyak pelajaran yang berguna untuk masa-masa hidupku berikutnya.

Memperhatikan orang lain, tanpa terlibat dalam kehidupan mereka, ternyata memberi pelajaran tersendiri.

=========
* Gambar dicopy dari https://krou.files.wordpress.com/2009/10/gembel.jpg

No comments:

Post a Comment