Sunday, June 7, 2015

MBS10. ANAK JUJUR

Aku sudah bertahun-tahun membuka toko material. Dulu aku ingin seperti Fahmi atau Deni, menjadi pegawai negeri yang nyaman. Tetapi ada oknum yang memintaku membayar sejumlah uang sehingga aku tidak melanjutkan proses seleksi.

Berjualan material ini harus kuat mental. Pembeli sering minta tempo, tetapi ketika jatuh tempo sering tidak membayar. Padahal stok material harus selalu dibayar tepat waktu.

Tetapi pelan-pelan usaha materialku makin maju. Pelan-pelan pula pemasukanku bertambah.

Ketika Fahmi dan Deni menjadi pejabat, mereka tetap melihatku sebagai pedagang di toko berdebu bahkan berpasir karena itulah daganganku. Tetapi mereka tidak tahu berapa hektar tanah yang telah kumiliki sebagai tabungan. Mereka juga tidak tahu berapa kuli yang telah kubantu memperoleh nafkah untuk anak isterinya.

Pendek kata usahaku makin maju meski ada jatuh bangunnya. Aku bersyukur untuk semua itu.

Tetapi kemarin seorang anak kecil minta jadi kuli. Dia datang tanpa ijazah dan tidak tahu apa itu sekolah.

Di mata anak itu kulihat pancaran kejujuran dan semangat hidup. Aku sudah terbiasa menemui banyak karakter manusia. Dari tatapan dan gerak-geriknya saja aku sudah bisa membaca isi hatinya.

Aku tahu kedatangannya adalah rahmat, karena selama sekian tahun menikah... Aku belum juga dikaruniai putera.

No comments:

Post a Comment