Aku ingin bercerita sedikit tentang Mr. Steve, guru wali
yang dekat dengan kami para murid.
Sebelum datang ke padepokan, dia adalah
seorang profesor yang mengajar di kampus apa namanya di Singapura. Mungkin Nan
Yang atau semacam itu nama kampusnya. Aku tidak begitu tahu apakah itu nama
kampus atau nama kota di sana.
Dia datang ke padepokan ketika aku masih berumur sepuluh.
Dipapah Guru Hendra, Mr. Steve ketika itu tampak terluka parah, konon katanya
habis dikeroyok begal. Sedihnya, isterinya meninggal dengan sangat mengenaskan
dalam pengeroyokan itu sehingga Mr. Steve depressi.
Guru kepala kemudian menangani Mr. Steve secara intensif
sehingga akhirnya beliau bisa menerima kepergian isterinya. Selama beliau
dirawat, orang-orang dari Singapura dan Australia bolak-balik datang ke
padepokan.
Setelah pulih Mr. Steve memilih untuk tinggal di padepokan
dan mengajar ilmu-ilmu exakta sambil menekuni silat. Karena silat beliau belum
begitu tinggi, kami tidak memanggilnya Guru. Tetapi karena beliau sudah berumur
dan juga mengajar di kelas pengetahuan umum, kami memanggilnya Mister.
Sebenarnya ada beberapa guru bule di padepokan kami, tetapi
karena mereka mengajar silat maka kami memanggil mereka dengan sebutan Guru,
misalnya Guru Heinrich dan Guru Fred.
Mr. Steve sangat dekat dengan anak-anak. Dia bilang sejak
menikah tidak pernah punya anak sehingga dia menyayangi kami sebagai
anak-anaknya.
Setelah tragedi terjadi di padepokan dan kami berpencaran k
luar, au tidak pernah mendengar lagi kabar Mr. Steve.
Aku berdoa semoga dia tidak termasuk menjadi korban dalam
peristiwa itu, sambil berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengannya.
Mr. Steve adalah sosok ayah yang baik. Karena itu aku
merindukannya sebagai seorang anak merindukan kasih sayang ayahnya.
=================
Gambar diambil dari https://satrianaga.files.wordpress.com/2011/01/kampoeng-silat-jampang.jpg
MBS: Menulis Blog Serial

No comments:
Post a Comment