Kapal feri ini seharusnya nyaman. Sayang penumpangnya berjubel sehingga fasilitas-fasilitas eksekutifnya banyak yang menjadi korban vandalism.
Aku sedang menikmati pemandangan selat yang menyekat Pulau Jawa dan Sumatera, berdiri di pagar kapak ketika kurasa seseorang menepuk pundakku.
"Sudah sering naik kapal Dik?" Seorang berusia empat puluhan ternyata telah berdiri di sebelah kananku.
"Baru pernah," jawabku.
Pria itu menatapku sejenak. "Di Lampung mau ke mana?"
"Ke rumah teman di Kalianda."
Pria itu berkata bahwa dia juga tinggal di Kalianda sehingga ia menawarkan boncenfan setelah turun dari kapal. "Kalianda jaraknya nanggung Dik. Kalau naik angkutan umum lama sekali padahak jaraknya tidak begitu jauh dari Pelabuhan Bakauheni. Kalau naik travel harganya mahal, seharusnya lebih cepat tetapi mobil travel tidak akan berangkat sebelum penumpangnya penuh."
Kami kemudian mengobrol. Pria itu seorang pegawai pemda, keluarganya tinggal di Jakarta sehingga ia sering bolak-balik ke Lampung.
Ketika teman yang kutuju ternyata sudah pindah alamat dan alamat barunya tidak ada yang tahu, pria itu menawariku tinggal di rumahnya selama aku belum pulang ke Jakarta.
Untunglah pria itu tidak suka bertanya latar belakang sehingga aku tidak perlu repot menjawab tentang masa laluku di padepokan. Tragedi padepokan membuatku sedikit trauma untuk mempercayai orang lain.
Aku sedang menikmati pemandangan selat yang menyekat Pulau Jawa dan Sumatera, berdiri di pagar kapak ketika kurasa seseorang menepuk pundakku.
"Sudah sering naik kapal Dik?" Seorang berusia empat puluhan ternyata telah berdiri di sebelah kananku.
"Baru pernah," jawabku.
Pria itu menatapku sejenak. "Di Lampung mau ke mana?"
"Ke rumah teman di Kalianda."
Pria itu berkata bahwa dia juga tinggal di Kalianda sehingga ia menawarkan boncenfan setelah turun dari kapal. "Kalianda jaraknya nanggung Dik. Kalau naik angkutan umum lama sekali padahak jaraknya tidak begitu jauh dari Pelabuhan Bakauheni. Kalau naik travel harganya mahal, seharusnya lebih cepat tetapi mobil travel tidak akan berangkat sebelum penumpangnya penuh."
Kami kemudian mengobrol. Pria itu seorang pegawai pemda, keluarganya tinggal di Jakarta sehingga ia sering bolak-balik ke Lampung.
Ketika teman yang kutuju ternyata sudah pindah alamat dan alamat barunya tidak ada yang tahu, pria itu menawariku tinggal di rumahnya selama aku belum pulang ke Jakarta.
Untunglah pria itu tidak suka bertanya latar belakang sehingga aku tidak perlu repot menjawab tentang masa laluku di padepokan. Tragedi padepokan membuatku sedikit trauma untuk mempercayai orang lain.
No comments:
Post a Comment